USAHATANI TEBU (SACHARUM OFFICINARUM) ANTARA SISTEM BONGKAR RATOON DENGAN SISTEM RAWAT RATOON DI WILAYAH KECAMATAN PRAMBON

M Kadafi, Prawiro (2011) USAHATANI TEBU (SACHARUM OFFICINARUM) ANTARA SISTEM BONGKAR RATOON DENGAN SISTEM RAWAT RATOON DI WILAYAH KECAMATAN PRAMBON. Undergraduate thesis, Faculty of agriculture.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (1323Kb) | Preview
    [img] PDF - Published Version
    Restricted to Repository staff only

    Download (5Mb)

      Abstract

      Indonesia merupakan produsen gula pasir dimana gula pasir digolongkan sebagai komoditas strategis, sehingga pemerintah berkewajiban menyediakan dalam jumlah yang cukup pada tingkat harga yang terjangkau di masyarakat. Saat ini produksi gula dalam negeri belum mampu mencukupi konsumsi, baik konsumsi lansung maupun konsumsi tidak lansung. Kekurangan gula untuk mencukupi kebutuhan konsumsi tersebut masih harus disediakan melalui impor. Sehingga Sektor pertanian merupakan bagian terpenting dari perekonomian Negara Indonesia yang mampu menyumbang devisa. Hal tersebut didukung dengan pembangunan pertanian yang sangat erat kaitannya dalam menunjang terwujudnya sistem ketahanan pangan yang kokoh khususnya peningkatan gula atau tebu. Tebu (Sacharum Officinarum) adalah tanaman rumput – rumputan yang banyak mengandung gula pada batangnya. Namun untuk sampai menghasilkan gula, terlebih dahulu tebu hasil panen dari kebun harus segera dikirim ke Pabrik Gula (PG) untuk selanjutnya diolah. Dari pengolahan tebu ini dihasilkan apa yang dikenal sebagai Gula Kristal Putih (GKP) dan tetes sebagai produk utama. Disamping itu proses pengolahan tebu ini juga memproduksi ampas tebu yang kemudian dapat dimamfaatkan sebagai bahan bakar Boiler, media jamur merang, serta pupuk organik (Kompos). Sedangkan blotong yang dihasilkan dari proses pemurnian, dapat dimamfaatkan pula sebagai pupuk organic. Usahatani tanaman tebu dengan menggunakan sistem bongkar ratoon yang dilihat dari segi tanam menggunakan tebu varietas baru dari hasil persilangan dengan tebu yang sebelumnya, pemeliharaan yang digunakan hampir sama dengan tebu yang lain yaitu dilakukan pemeliharan ulang dari tebu sebelumnya mulai dari pemupukan, penyulaman, pengairan, membunbun, dan memberantas hama penyakit pada tanaman tebu itu sendiri. Panen dilakukan apabila tebu tersebut telah dikatakan sudah tua dengan ciri – ciri berwarna kecoklatan tua dan siap untuk di tebang dan pasca panen dilakukan pengangkutan ke pabrik gula untuk dilakukan penyortiran tebu yang berkwalitas dan tidak berkwalitas. Berdasarkan hasil penelitian usahatani tebu sistem bongkar ratoon mempunyai biaya per hektar sebesar Rp. 19.878.192, (Rp/Ha), penerimaan per hektar sebesar Rp. 34.540.266, (Rp/Ha) dan pendapatan per hektar sebesar Rp. 15.256.068, (Rp/Ha). Sedangkan usahatani tebu sistem rawat ratoon memiliki biaya per hektar sebesar Rp. 15.084.981, (Rp/Ha), penerimaan per hektar sebesar Rp. 27.837.660, (Rp/Ha), dan pendapatan perhektar sebesar Rp. 10.636.277, (Rp/Ha). Sedangkan untuk produktivitas sistem bongkar ratoon hasil tebu 1.203 (Ton/Ha) dan gula 91.4 (Ku/Ha) dan sistem rawat ratoon hasil tebu sebesar tebu 1.124 (Ton/Ha) dan gula 90.5 (Ku/Ha). Dari hasil tersebut terjadi daya saing antara sistem bongkar ratoon dan sistem rawat ratoon yang dilihat dari segi biaya, penerimaan, pendapatan dan produktivitas.

      Item Type: Thesis (Undergraduate)
      Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
      S Agriculture > S Agriculture (General) > S571 Farm Economics. Farm Management
      Divisions: Faculty of Agriculture > Agribusiness
      Depositing User: Fitri Yulianto
      Date Deposited: 13 Oct 2011 16:17
      Last Modified: 20 Oct 2011 10:25
      URI: http://eprints.upnjatim.ac.id/id/eprint/1389

      Actions (login required)

      View Item