PUSAKA BERSEJARAH BENTENG ORANGE SEBAGAI ASPEK KEKUATAN PERTAHANAN YANG HANDAL BAGI PENGUASA KAUM KOLONIAL MASA LALU DI TERNATE, MALUKU UTARA

Imam , Santoso and Dina , Poerwoningsih (2014) PUSAKA BERSEJARAH BENTENG ORANGE SEBAGAI ASPEK KEKUATAN PERTAHANAN YANG HANDAL BAGI PENGUASA KAUM KOLONIAL MASA LALU DI TERNATE, MALUKU UTARA. In: Arsitektuir Pertahanan "Insting teritorial & Ruang Pertahanan".

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (11Mb) | Preview

    Abstract

    Ternate termasuk salah satu kota tua di Indonesia dan di dunia karena kota ini telah ada sebelum abad pertengahan dan menjadi pusat imperium islam terbesar di Indonesia Timur sekaligus sebagai kota perdagangan dan pusat pemerintahan. Sebagai kota yang memiliki pusaka bersejarah dan sejarah yang panjang, terutama terhadap daerah pertahanan (benteng pertahanan) sejak masa Islam dan masa kolonialisasi Portugis dan Belanda. Semenjak tahun 1512, bangsa Portugislah yang pertama menguasai Pulau Ternate. Benteng-benteng dan salah satunya Benteng Malayo/Orange adalah sebagai bangunan pertahanan kaum kolonialis. Dahulunya sebagai penanda kota masa kolonial Belanda yang menguasai Maluku Utara, pernah didesain khusus untuk benteng pertama terbesar yang dibuat Belanda. Pada dasarnya, Benteng Malayo awal digagas pembangunannya oleh Cornelis Matelief de Jonge di tahun 1607, benteng yang berlokasi di kelurahan sangaji-Ternate timur ini – sebuah pusat pertahanan yang di bangun oleh orang-orang Melayu sebelum kedatangan bangsa eropa di Nusantara. Dan Francois Witlentt adalah yang kemudian menamakan bangunan tersebut dengan nama benteng Orange. Nama yang melekat sejak 1609 hingga saat ini. Kawasan benteng Orange sempat menjadi sentral pemerintahan Hindia Belanda sebelum akhirnya pada tahun 1619 dipindahkan ke Batavia di pulau Jawa. Bangunannya juga adalah markas bagi VOC. Beberapa petinggi Hindia Belanda dan VOC yang pernah ada di sana adalah Jan Pieterszoon Coon, Herald Reynst, Pieter Both dan Laurenz Reaal. Dan dii benteng ini pula Sultan Palembang, Mahud Badarudin II diasingkan di Ternate pada tahun 1822 hingga meninggal dunia pada tahun 1852. Benteng ini kemudian berubah menjadi penjara seperti yang tertulis pada batu prasasti dibangun tahun 1756. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan terlebih dahulu teori-teori yang ada kemudian dibuktikan dengan gambaran dari hasil kegiatan telusur benteng pada kawasan permukiman di sekitar benteng, analisis konteks dan karakter benteng pertahanan dan pola permukiman sekitar terhadap bentukan karakter kota nusantara.

    Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    Divisions: Faculty of Social Sciences and Political Sciences > Communication Studies
    Depositing User: Users 8 not found.
    Date Deposited: 08 May 2015 10:10
    Last Modified: 08 May 2015 10:12
    URI: http://eprints.upnjatim.ac.id/id/eprint/6831

    Actions (login required)

    View Item