PERTAHANAN RUANG NUSANTARA PERTAHANAN RUANG PER-EMPU-AN

Anas , Hidayat (2014) PERTAHANAN RUANG NUSANTARA PERTAHANAN RUANG PER-EMPU-AN. In: "Insting Teritorial & Ruang Pertahanan", Surabaya.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (11Mb) | Preview

    Abstract

    Nusantara terdiri dari banyak nusa yang terpecah-pecah, yang tentunya memerlukan pola pertahanan ruang yang sesuai dan kontekstual. Apalagi Nusantara – sejak jaman dahulu – hampir selalu menjadi ajang perebutan pengaruh dan kekuasaan di antara kekuatan-kekuatan besar kontinental, seperti India, China sampai Eropa (juga Amerika). Masyarakat Nusantara sudah menyadari, bahwa jika mengandalkan kekuatan fisik militer saja, maka akan sulit untuk bertahan, maka mereka mengembangkan pertahanan yang lebih bertumpu pada strategi dan kecerdikan untuk “menaklukkan” lawan. Dalam proses itu, mereka berusaha mengendalikan “skenario/jalan cerita” dalam perebutan penguasaan ruang. Kajian ini akan menganalisa pengetahuan pertahanan Nusantara yang masih terperam dalam mitologimitologi (legenda atau cerita rakyat.) yang belum banyak digali dari sudut pandang ruang pertahanan. Seperti misalnya cerita Roro Jonggrang (melawan Bandung Bondowoso) dan cerita Dayang Sumbi (melawan Sangkuriang). Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa kekuatan fisik pada akhirnya bisa dikalahkan dengan kekuatan strategi (kecerdikan). Tokoh yang dimunculkan biasanya adalah perempuan yang lemah, tetapi dengan cerdik mampu memperdayai kekuatan besar. Mitologi Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi seperti mendapat pembenaran dalam sejarah, misalnya dalam terbentuknya kerajaan Majapahit. Diawali dari penyerbuan pasukan Tartar-Mongol dengan 20.000 pasukan yang dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menaklukkan Daha-Kediri, lalu dalam kondisi lengah pasukan Tartar itu ganti dihancurkan hingga lari kembali ke negerinya. Juga dalam sejarah seputar Kemerdekaan RI di tahun 1945, para pemimpin kita memanfaatkan kondisi ketika Jepang kalah dalam PD II dan Belanda yang membonceng Sekutu belum sepenuhnya mampu menancapkan kekuasaannya kembali. Sementara, pertahanan yang mengandalkan kekuatan fisik militer saja seperti dilakukan Pati Unus terhadap Portugis di Malaka, Sultan Agung terhadap VOC di Batavia hingga Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin atau Pattimura gagal karena “kalah st rategi” dengan musuhmusuhnya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pahlawan kita, mereka gagal menjadi Empu yang mampu mengendalikan dan menguasai skenario perebutan penguasaan ruang, karena mereka lebih berperan sebagai Sangkuriang (yang mengandalkan kekuatan) dan bukan Dayang Sumbi (yang mengandalkan strategi/kecerdikan).

    Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
    Subjects: N Fine Arts > NA Architecture
    Divisions: Prosiding Seminar Nasional : Arsitektur Pertahanan "Insting Teritorial & Ruang Pertahanan"
    Depositing User: Users 8 not found.
    Date Deposited: 11 May 2015 12:47
    Last Modified: 11 May 2015 12:47
    URI: http://eprints.upnjatim.ac.id/id/eprint/6836

    Actions (login required)

    View Item