REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM “KU TUNGGU JANDAMU” (Studi Analisis Semiotika Representasi Feminisme melalui Tokoh Persik)

ARGA , FAJAR RIANTO (2010) REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM “KU TUNGGU JANDAMU” (Studi Analisis Semiotika Representasi Feminisme melalui Tokoh Persik). Undergraduate thesis, UPN 'Veteran" JATIM.

[img]
Preview
PDF - Published Version
Download (629Kb) | Preview
    [img] PDF - Published Version
    Restricted to Repository staff only

    Download (726Kb)

      Abstract

      Penelitian ini didasarkan pada sebuah fenomena mengenai feminisme yang sedang menuai pro dan kontra di masyarakat. Film “Ku Tunggu Jandamu” merupakan film yang berani merekam gerakan emansipasi wanita, dan memproyeksikan melalui tokoh utama perempuannya yaitu Persik. Feminisme yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, telah ada dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk dalam bidang dosmetik perempuan itu sendiri. Film adalah media komunikasi massa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana feminisme direpresentasikan dalam film. Perempuan dalam media massa sering digambarkan sebagai korban laki-laki dan sebagai sosok yang pasif. Feminisme menunjukkan bahwa perempuan dapat setara dengan laki-laki dan juga dapat memiliki kekuasaan terhadap laki-laki. Dimana perempuan yang memiliki kemampuan, keahlian, dan dapat menggali potensi diri dengan optimal, serta dapat menguasai dan tidak diremehkan oleh laki-laki dijadikan sebagai tolak ukur feminisme. Film sebagai komunikasi massa dan kontruksi realitas sosial, serta semiotika dalam film, kemudian konsep feminisme yang digunakan adalah feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikal-kultural, feminisme sosialis, feminisme post modern, dan feminisme eksistensialis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode semiotik. Pendekatan semiotik yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce dengan Triangle Meaning dan analisis sinema televisi oleh John Fiske melalui level realitas, level representasi, dan level ideologi. Data dibagi tiga level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Pada level realitas, dianalisis penandaan yang terdapat pada kostum, make up, setting, dan dialog. Sedangkan pada level representasi dianalisis penandaan yang terdapat pada kerja kamera, pencahayaan, dan penataan suara. Pada level ideologi dianalisis dengan menggunakan konsep yang melibatkan hubungan tanda (sign), obyek-obyek (object) dan interpretant, serta mengunakan ikon (icon), indeks (index) dan simbol (symbol) yang menjadi penandaan terhadap representasi melalui tokoh Persik. Kesimpulan peneliti bahwa, terdapat enam representasi feminisme dalam penelitian antara lain feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikalkultural, feminisme sosialis, feminisme post modern, dan feminisme eksistensialis tercemin melalui sosok Persik. Pada feminisme liberal, Persik sebagai sosok yang punya otonomi, dan berusaha mengkonstruksi ulang peran yang bersifat gender di masyarakat. Pada feminisme marxis, Persik sebagai sosok yang menolak bahwa penindasan perempuan adalah bagian yang esensial dari sistem kapitalis, dan xiv berusaha membebaskan perempuan dari keperluan pertukaran (exchange), yaitu laki-laki mengontrol produksi untuk pertukaran dan sebagai konsekuensinya mereka mondiminasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Pada feminisme radikal-kultural, Persik sebagai sosok yang menolak sistem patriarkhi, yang selalu bertindak subjek, dan punya hak untuk menentukan keputusan. Pada feminisme sosialis, Persik sebagai sosok yang mengkritik asumsi umum, yaitu meningkatnya partisipasi perempuan dalam ekonomi lebih berakibat pada peran antagonism seksual ketimbang status. Pada feminisme post modern, Persik sebagai sosok yang menolak perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang harus diterima dan dipelihara, gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial. Pada feminisme eksistensialis, Persik sebagai sosok yang menolak bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak lengkap, dan tidak cukup kiranya perempuan dijadikan obyek laki-laki karena segi biologis yang selalu dianggap perempuan mempunyai keterbatasan biologis untuk bereksistensi sendiri. Konstruksi feminisme dalam film “Ku Tunggu Jandamu” ini adalah masih tergolong feminisme setengah jalan, karena pandangan feminismenya masih terangkai dalam bingkai pemikiran dan perspektif patriarkhi.

      Item Type: Thesis (Undergraduate)
      Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics > P99 Semiotics. Signs and symbols
      Divisions: Faculty of Social Sciences and Political Sciences > Communication Studies
      Depositing User: Users 8 not found.
      Date Deposited: 04 Mar 2011 11:29
      Last Modified: 04 Mar 2011 11:29
      URI: http://eprints.upnjatim.ac.id/id/eprint/714

      Actions (login required)

      View Item